Wednesday, October 19, 2011

Bila Semangat Datang Karena ALlah

Bila Semangat Datang Karena Allah
Oleh : Riki satria


Tidaklah mudah mendapatkan sebuah semangat yang menggejolak dalam diri seseorang sebelum dia dekat dengan Allah.
Semangat merupakan modal yang paling utama untuk termotivasinya seseorang dalam melakukan suatu hal , tanpa semangat seseorang itu akan gagal apasaja yang ingin dicapai.
Banyak motivator-motivator yang selalu menyemangati public, mereka di undang sebagai pembicara besar terutama di kalangan bisnis. Padahal mereka tidak lain hanyalah penyambung lidah yang selalu mendongkrak spirit kita sehingga kita maju. Yang menentukan arah pembicaraan adalah diri kita bukan mereka.
Ketahuilah, kita semua memiliki tuhan satu yang maha bijaksana. Allahlah yang mendatangkan semangat untuk kita bangkit dari kebodohan menjadi tahu mana jalan yang lurus yang pantas untuk kita tempuh.
Kedekatan diri kita dengan Allah adalah salahsatu cara membangkitkan semangat yang abadi tak pernah keluh kesah karena semangat itu datang karena Allah.
Bila semangat datang dari Allah maka dinding beton bagaikan kapas yang sangat lembut dan bara api seperti tiupan angin segar, seperti halnya rakyat palestina yang berperang membela agama Allah . mereka akan selalu bersemangat demi mempertahankan martabat dan agamanya bukanlah menjadi manusia yang hanya pandai berkoar-koar tanpa tindakan yang pasti.
Oleh karena itu, jangan hilangkan semangat dalam jiwa dan pikiranmu wahai saudaraku. Semangat yang pertama tak akan sama dengan kedua kalinya . . .jika bersemangat lakukanlah !!! dan jangan gegabah tapi renungkan dan istikharahlah. . .
Wassalam
10-09-2011
19:43
»»  READMORE...

Tuesday, August 2, 2011

Jika Esok Tak Pernah Datang



Setiap bangun tidur dan membuka mata, yang terucap adalah kalimat syukur bahwa Allah masih mengizinkan diri ini kembali melihat fajar. Merasai hembusan angin pagi yang menerobos celah jendela, dan menjumpai semua yang semalam terlihat sebelum mata terpejam masih seperti sedia kala, tidak ada yang berubah.




Kemudian melangkahlah dengan iringan doa di gerbang mungil menuju arena perjuangan kehidupan. Dengan tuntunan-Nya lah diri ini tak melangkah ke jalan yang salah, tak menjamah yang bukan hak, tak melihat yang dilarang, tak memamah yang tak halal, tak mendengar yang batil, dan tak banyak melakukan yang sia-sia. Karena setiap waktu yang terlewati pasti akan ditagih tanggungjawabnya. Lantaran semua jalan yang dilalui akan dimintai kesaksiannya atas diri ini. Dan sebab seluruh indera ini akan diminta bicara tentang apa-apa yang pernah tercipta.

Hari ini, masih ada lalai terbuat. Masih juga lengah sehingga khilaf tercipta. Meski segunung tausyiah pernah didengar, mulut ini masih terselip berucap dusta, saringan telinga ini tetap tak mampu membendung suara-suara melenakan, dan masih saja ada perbuatan yang salah, walau itu dalam bingkai alpa. Padahal, di setiap terminal ruhiyah, sedikitnya lima kali sehari lidah ini berucap, tangan ini tertengadah, dan mata menitikkan butir bening, seraya memohon perlindungan dari Allah dijauhkan dari salah dan dosa. Tetapi, masih juga langkah ini menuju arah yang sesat.

Setiap hari menangis, setiap hari meminta ampunan, setiap hari berbuat salah. Hari ini mencipta dosa, esok sibuk bersujud, meluluhkan air mata, menyusun kalimat doa, menganyam pinta semoga Allah menghapusnya dalam sekejap. Detik ini berbuat salah, terlalu lama menghapusnya, bahkan kadang lupa. Padahal, bisa saja sedetik kemudian diri ini tak lagi sempat memohon ampunan. Lupakah bahwa waktu sangat cepat berlalu. Lupakah pula bahwa menyesal di akhirat hanyalah kesiaan yang nyata?

Bagaimana jika hari esok tak pernah datang, padahal baru saja seharian ini berenang di lautan dosa. Padahal belum sempat menghapus noda hari ini, kemarin, sepekan yang lalu, setahun lalu, dan bertahun-tahun yang lalu. Bagaimana jika Allah tak berkenan membukakan mata kita setelah sepanjang malam terlelap? bagaimana jika perjumpaan dan canda riang bersama keluarga semalam adalah yang terakhir kalinya. Ketika esok harinya ruh ini melihat seluruh keluarga menangisi jasad diri yang terbujur kaku berkafan putih.

Bagaimana jika matahari esok terbit dari barat, tak seperti biasanya dari timur? Padahal hari ini lupa menyebut nama-Nya. Padahal di hari ini, belum sempat mengunjungi satu persatu keluarga, kerabat, sahabat, tetangga, dan orang-orang yang pernah tersakiti oleh lidah dan tindakan kita. Sudah terlalu lama tak mencium kaki orang tua mencari keridhaannya, walau tak terhitung salah diri. Belum lagi sempat berderma, setelah derma kecil beberapa tahun lalu yang sering kita banggakan.
Dan jika memang esok tak pernah datang. Sungguh celakalah diri ini. Benar-benar celaka, bila belum sempat mencuci dosa sepanjang hidup. Bila belum mendengar ungkapan maaf dari orang-orang yang pernah terzalimi, bila belum menyisihkan harta yang menjadi hak orang lain, bila belum sempat meminta ampun atas segala salah dan khilaf yang tercipta.
Maka, saat pagi ini Allah masih memperkenankan diri menikmati fajar, mulaikan hari dengan kalimat, "terima kasih, Allah"
»»  READMORE...